Ketika Media Sosial Menjadi Jalan Pembandingan Tak Sehat bagi Wanita
Penggunaan media sosial membuat kita sering membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Belum lagi banyaknya komentar negatif yang dapat mempengaruhi tingkat kepercayaan diri seseorang.
Menurut riset yang dilakukan oleh Dove dalam Indonesia Beauty Confidence Report 2017 disebutkan bahwa 38 persen wanita Indonesia suka membandingkan diri dengan orang lain. Hal tersebut menyebabkan rasa tidak percaya diri sehingga merasa tidak cantik.
Selain itu, riset tersebut juga menjelaskan bahwa 84 persen wanita Indonesia mengaku tidak tahu jika dirinya cantik dan 72 persen percaya bahwa untuk mencapai kesuksesan, wanita harus memenuhi standar kecantikan tertentu.
Seperti yang dikatakan oleh Intan (19) salah satu mahasiswa Universitas Brawijaya, bahwa dirinya sering kali merasa tidak percaya diri ketika sedang membuka media sosial dan melihat postingan wanita lain yang memamerkan kecantikannya. Seketika tingkat percaya dirinya menurun drastis.
Faktanya ketika melihat gaya hidup dan penampilan orang lain lewat postingannya di media sosial dapat membuat kita membandingkan diri sendiri dengan orang lain, memunculkan perasaan kurang percaya diri atau tidak puas dengan diri sendiri. Sebaiknya, kita perlu ingat bahwa media sosial seringkali hanya menampilkan sisi terbaik dari kehidupan seseorang dan bukan representasi utuh. Lebih baik fokus pada perkembangan pribadi dan merayakan pencapaian sendiri tanpa membandingkan dengan orang lain.
Mengambil contoh dari cerita Nana (19) mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura, seorang pengguna media sosial aktif, yang mengakui bahwa ketika dirinya melihat gaya hidup dan penampilan orang lain membuatnya merasa kurang berarti. "Saya selalu membandingkan hidup saya dengan postingan orang lain dan merasa tidak mencapai standar yang ditetapkan oleh media sosial” ujar Nana.
Para ahli psikologi menyatakan bahwa perbandingan diri ini dapat mengarah pada masalah kesehatan mental seperti rendahnya harga diri, kecemasan, dan depresi. Oleh karena itu, penting bagi wanita untuk menyadari dampak yang mungkin timbul dari perbandingan yang berlebihan dan membangun kepercayaan diri yang sehat.
“Mungkin bagi sebagian wanita, termasuk aku juga akan merasakan hal yang sama kalau misal kita ngelihat postingan cewek lain yang lagi foto dengan outfit yang sangat menarik dan dengan wajahnya yang sangat cantik tentunya aku bakal ngerasa insecure, kayak aku mikir kapan ya aku bisa jadi dia. Dan hal tersebut tentunya menimbulkan kecemasan dalam diri aku” Ujar Abel (19) mahasiswa Universitas Brawijaya.
Lalu menurut Nana, karena kecemasan yang berlebihan dan rasa ingin menjadi “dia” akhirnya kita bisa saja melakukan berbagai cara untuk bisa berpenampilan menarik dan cantik hany untuk mendapat pujian atau validasi dari orang lain seperti komentar komentar positif yang isinya pujian. Bisa dilakukan dengan cara mengedit foto kita, mengubah bentuk wajah maupun badan, dan canggihnya lagi saat ini aplikasi juga bisa mengubah warna baju yang sedang kita pakai didalam foto. Hal tersebut membuat kita kehilangan diri sendiri.
Seiring dengan pemahaman ini, muncul gerakan positif di media sosial yang mendorong autentisitas dan penerimaan diri. Wanita-wanita mulai berbagi kisah kehidupan yang sebenarnya, tanpa filter atau penyempurnaan, untuk menginspirasi orang lain untuk menerima diri mereka apa adanya.
Intan mengatakan bahwa, saat ini ia sudah banyak menemukan platform di media sosial yang berisi tentang motivasi untuk wanita agar bisa lebih mencintai diri sendiri, tidak membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Atau konten yang berisi tentang video inspirasi yang dapat menginspirasi banyak wanita dan sekaligus untuk menjaga kesehatan mental para wanita.
NAMA: ANAWANDA ZULKARNAIN
NIM: 23041184366
KELAS: H
Komentar
Posting Komentar