Kisah Tukang Sol Sepatu Memaknai Cinta dari Pahitnya Hidup



 Di tengah pasar dijejali produk fashion seperti sepatu dan sandal dengan harga murah meriah dan modelnya yang cepat berubah, membuat banyak penjual jasa reparasi sandal atau sepatu rusak limbung bahkan tutup. Ini terjadi bukan saja di kota-kota besar tapi merambah hingga ke kota-kota kecil.

Begitupun masih ada yang tetap menekuni pekerjaan ini atau biasa disebut tukang sol sepatu. Mereka biasanya berkeliling keluar masuk perumahan warga. Tapi ada juga yang menjajakan jasa reparasi sepatu dan sandal dengan membuka “toko” di lokasi yang ramai dilewati orang seperti dekat pasar, sekolah.

Seperti beberapa tukang sol sepatu di pinggir jalan Ds. Kelopo sepuluh Rt 01 Rw 01 Kec. Sukodono Kab. SIdoarjo. Mulyono, 59 tahun. Dia membuka “toko” di lokasi itu yang letaknya dekat dengan Pasar Sukdono

Mulyono punya kisah tersendiri tentang pekerjaannya sebagai tukang sol sepatu dan sandal di Kota Sidoarjo. Bukan berawal dari pengangguran tapi didasari percintaan yang kandas. Dia lalu meninggalkan keluarga dan kampung halamannya untuk bisa berjauhan dengan pujaan hatinya karena tekanan dari orang tua.

Dia kemudian beralih menjadi tukang sol sepatu keliling. Menggunakan waktu dua hari untuk belajar dari temannya, Mulyono mulai memikul perkakas sol sepatunya. Hari demi hari, dia mengelilingi kawasan Sidoarjo sekitarnya. Hingga akhirnya, dia memutuskan untuk duduk berjualan menggunakan sepeda ayunan.

Mulyono bekerja mulai dari jam 8 pagi hingga 6 sore, Teriknya matahari kota Sidoarjo tidak menjadi alasan Mulyono untuk berhenti. Mulyono memberi tarif Rp 20 ribu untuk setiap sepatu maupun sendal yang diperbaiki. Begitupun, penghasilan per harinya tidak pasti.

Walau dengan penghasilan yang tidak menentu, Mulyono mampu membiayai kehidupan keluarganya dan menyekolahkan anak-anaknya. Dia dibantu istrinya dengan berjualan jamu. Mereka memiliki dua anak.

“Anak saya dua. Yang laki laki sudah jadi polisi, yang perempuan sekarang kerja di Bank Mega,” kata Mulyono sambil terus menjahit sepatu di tangannya. Meski dua anaknya sudah punya pekerjaan yang mapan, namun Mulyono tetap terus menjalankan usahanya ini.

“Ya masih perlu makan, perlu rokok. Mau minta ke anak gak enak. Udah punya keluarga sendiri, Tidak hanya mampu menyekolahkan kedua anaknya, Muloyono dengan kerja kerasnya selama 42 tahun, sudah membangun sebuah rumah di kampung halamannya di Surabaya.

Mulyono mengatakan, harta benda hasil jerih payahnya untuk anak-anaknya, khususnya anak perempuannya. Sehingga saat dia kembali ke Yang Maha Kuasa, anaknya tidak merasakan susahnya hidup seperti dirinya dulu.

Pria berkulit hitam ini memulai profesinya sebagai tukang sol sepatu pada 1999. Dia ingin agar anak-anaknya tidak mengikuti jejak masa mudanya dulu yang gelap, jahanam sebagai preman pasar.

“Bapak selalu larang mereka untuk jangan ikuti jejak jahanam bapak. Karena kalau kau sampai merasakan, kamu akan menyesali itu,” tegas Mulyono menasehati anak-anaknya.

Syihab Zuhry Haqiqy/ 23041184354


Komentar

Postingan populer dari blog ini

DESA SUMENGKO MENJADI TEMPAT PENGRAJIN SHUTTLECOCK PERTAMA DI KABUPATEN NGANJUK

Ketika Media Sosial Menjadi Jalan Pembandingan Tak Sehat bagi Wanita

KIM NAMJOON DAN TUDUHAN ISLAM PHOBIA