Dari Kertas ke Layar, Trend Membaca Digital yang Kian Menguat.

 Membaca dapat membantu menjaga otak agar selalu menjalankan fungsinya secara sempurna. Saat membaca, otak dituntut untuk berpikir, menganalisis berbagai masalah, mencari jalan keluar dan solusi hingga menemukan hal-hal baru.

Generasi muda saat ini selain membaca buku pelajaran, mereka juga suka membaca buku novel dan komik.

Dalam era transformasi digital yang terus berkembang, kebiasaan membaca dari kertas secara perlahan namun pasti beralih ke layar digital, menandai tren membaca digital yang kian menguat di kalangan masyarakat. Perubahan ini bukan hanya sekadar pergeseran medium, tetapi juga mencerminkan adaptasi terhadap perubahan gaya hidup dan preferensi literasi modern.

Pertumbuhan teknologi informasi telah mengubah cara kita mengakses dan mengonsumsi informasi. Buku fisik, majalah, dan koran, yang sebelumnya menjadi sumber utama bacaan, kini mendapati diri mereka berbagi panggung dengan perangkat elektronik, seperti tablet, e-reader, dan smartphone. Kepraktisan dan keterjangkauan dalam mengakses konten digital menjadi daya tarik utama yang mendorong perubahan ini.

“Semenjak ada aplikasi yang bisa mempermudah aku buat baca lewat handphone, kerasa banget sih perubahannya yang dulunya aku sering banget beli novel atau komik di toko buku tapi sekarang aku cukup download di handphone sudah bisa baca” ujar Adis (18) salah satu mahasiswa Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma. Jadi perubahan itu sangat berdampak pada peralihan cara membaca.

Salah satu faktor utama di balik tren membaca digital adalah ketersediaan beragam platform dan aplikasi membaca elektronik. Layanan langganan e-book, audiobook, dan platform digital lainnya menawarkan akses mudah ke berbagai judul, memungkinkan pembaca untuk menjelajahi dan memilih konten sesuai dengan preferensi mereka. Fleksibilitas ini memberikan pengalaman membaca yang disesuaikan dan lebih interaktif.

“Banyak sih sebenernya aplikasi aplikasi buat membaca, apalagi novel dan komik. Sekarang sudah banyak sekali aplikasinya. Biasanya aku baca novel itu di aplikasi wattpad, disana lengkap banget dan bagus bagus juga ceritanya.” Ujar Ovi (19) Mahasiswa Sains Data Politeknik Elektronika Negeri Surabaya. Memang banyak sekali aplikasi dan platform yang tersedia untuk mengakses bermacam-macam jenis bacaaan, hal itu juga yang membuat kita lebih memilih membaca digital karena lebih praktis dan lebih mudah didapatkan.

“praktis banget menurutku dan lebih irit gak ngeluarin duit banyak. Kalo dulu kan kita harus ke toko buku dulu buat beli. Kebetulan aku suka banget baca komik, apalagi sekarang sudah ada webtoon yang bagus banget visualnya” Ujar Fitri (19) Mahasiswa Teknik Gigi Universitas Airlangga.

Meskipun tren membaca digital semakin menguat, beberapa tantangan juga muncul. Beberapa orang masih menyukai kehadiran fisik buku dan pengalaman menyentuh halaman kertas. Selain itu, kekhawatiran terkait kelelahan mata dan gangguan tidur yang mungkin terkait dengan paparan layar elektronik tetap menjadi pertimbangan bagi sebagian pembaca.

“menurut aku sendiri, memang sih membaca lewat handphone itu lebih praktis. Tapi kadang itu kalo kelamaan baca di hp juga mataku jadi capek banget dan jadi sering pusing. Ya mungkin karena radiasinya ya” Ujar Adis menanggapi.

“Ya kadang kerasa juga sih capeknya, tapi gak tahu kenapa lebih suka aja begitu baca novel di hp” Ujar Ovi menanggapi.

“Pastinya kalo kelamaan juga gak baik buat mata ya, tapi kan di zaman sekarang ada itu anti radiasi. Ya mungkin dengan cara itu bisa membantu mengurangi radiasi” Ujar Fitri turut menanggapi.

Dalam keseluruhan, tren membaca digital yang kian menguat mencerminkan pergeseran masyarakat menuju gaya hidup yang semakin terhubung dengan teknologi. Sementara buku fisik mungkin tidak pernah kehilangan tempatnya sepenuhnya, peran layar digital dalam membentuk masa depan literasi tampaknya akan terus berkembang seiring dengan perubahan dinamis dalam dunia digital ini.

Nama: Anawanda Zulkarnain

NIM: 23041184366

Kelas: H


Komentar

Postingan populer dari blog ini

DESA SUMENGKO MENJADI TEMPAT PENGRAJIN SHUTTLECOCK PERTAMA DI KABUPATEN NGANJUK

Ketika Media Sosial Menjadi Jalan Pembandingan Tak Sehat bagi Wanita

KIM NAMJOON DAN TUDUHAN ISLAM PHOBIA