Jasa Penjahit Rumahan Yang Mulai Mengalami Penurunan Omset

 Rabu (6/12/2023) Usaha penjahit pakaian merupakan suatu usaha yang memerlukan kreativitas yang tinggi, banyak sekali orang-orang menyepelekan penjahit rumahan memiliki kemampuan menjahit yang ala kadarnya. Mungkin saat ini profesi penjahit rumahan mulai jarang ditemukan di kota-kota besar.

Namira seorang penjahit yang berusia 52 tahun dari desa Sumengko, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk. Ia memiliki kemampuan menjahit yang tak kalah keren dengan penjahit-penjahit terkenal. Namira membuka jasa menjahit pakaian sejak tahun 2008. Sekarang ini Namira membuka jasa menjahit pakain didalam rumah karena keterbatasan fisik yang susah untuk berjalan.

Sebelum N amira membuka jasa menjahit pakaian ia melakukan kursus menjahit selama 3 tahun dan setelah lulus dati kursus menjahit ia bekerja di tempat pembuatan baju pernikahan.

“ Dulu saat saya masih muda dan belum mengalami sakit pada kaki saya bekerja di konveksi pembuatan baju pernikahan, tetapi saat saya mengalami sakit dan susah untuk bekerja lagi saya merintis usaha menjahit pakaian di rumah,” ujar Namira (6/12/2023)

Ia sudah banyak menerima klien dari beberapa desa di kota nganjuk untuk menjahit baju wisuda, baju seragam sekolah, baju pesta, dan masih banyak model baju yang di reques customer.

Wanita kelahiran 1971 itu mengaku jasa penjahit rumahan sudah mulai memiliki penurunan omset, sekarang ini beberapa orang sudah memilih untuk membeli baju jadi daripada menjahit di jasa tukang jahit rumahan.

“ Untuk waktu sekarang ini sudah sedikit menurut omset untuk menjahit baju seragam sekolah, yang dulunya setiap ajaran sekolah baru banyak orang tua yang menjahitkan seragam sekolahnya sekarang mereka lebih memilih membeli pakaian seragam ke toko atau sudah mendapatkan seragam jadi dari sekolahan ,”

“ Untuk pembuatan baju pesta, baju wisuda seperti kebaya juga tidak menentu karena ada beberapa orang yang lebih memilih untuk menyewa di salon. Meskipun ada yang menjahitkan baju kebaya paling juga Cuma 2 atau 3 orang saja,” sambung Namira (6/12/2023)

Namira menduga penurunan orderan untuk membuat seragam sekolah ini dikarenakan sudah banyak sekali sekolah-sekolah yang memberikan seragam yang sudah jadi. Untuk saat ini mungkin yang rame untuk pemasangan emblem,bed di seragam atau untuk menjahit baju baju yang memiliki robekakan serta mengecilkan baju yang kebesaran.

Untuk upah menjahit baju ditentuakan dari seberapa kesulitan dari baju yang akan di buat. Sementara upah untuk pemasangan emblem sekitar Rp 10.000 – Rp 15.000.

“ Untuk customer yang akan membuat baju itu membawa kain sendiri, saya hanya mengambil upah dari jasa jahit saya. Tetapi masih ada saja customer yang menawar upah dari jasa jahit untuk pemasangan emblem atau pembuatan baju padahal saya membandrol harga jahit juga menyamakan dengan penjahit- penjahit rumahan lainnya,” ujar Namira (6/12/2023)

Namun meskipun omset yang terus saja mengalami penurunan Namira tak takut bersaing dengan produk pakaian jadi. Sebab Namira memiliki pangsa pasar dan memiliki langganan sendiri yang selalu menjahit pakaian kepadanya. Ia lebih mempertahankan kualitas dari jahitannya sehingga membuat konsumennya merasa puas dengan hasil jahitnya. Ia juga menambahkan jika menjahit baju harus di perhatikan ketelitian,keuletan,kesabaran jika ingin mendapatkan hasil jahit yang bagus.

“ Hasil jahit sehari-hari masih bisa untuk membeli makan karena pasti ada saja orang yang datang entah untuk menjahitkan pakaian yang sobek,memasang emblem,mengganti resleting dan lainnya. Jadi saya tidak kawatir selagi masih ada pemasukan untuk membeli makanan,” ujar Namira (6/12/2023).

Aprilia Putri Mahardika_23041184368


Komentar

Postingan populer dari blog ini

DESA SUMENGKO MENJADI TEMPAT PENGRAJIN SHUTTLECOCK PERTAMA DI KABUPATEN NGANJUK

Ketika Media Sosial Menjadi Jalan Pembandingan Tak Sehat bagi Wanita

KIM NAMJOON DAN TUDUHAN ISLAM PHOBIA